

















Apakah anda mengenal sistem ERP (Enterprise Resource Planning) ?. Melalui software terkenalnya yakni SAP, sistem ini telah digunakan di banyak perusahaan dunia untuk mendukung kegiatan bisnisnya, walaupun harga yang ditawarkan memang sangat mahal baik dari sisi lisensi, konsultan dan pelatihan SDM. Di Indonesia sendiri implementasi software SAP sudah berlansung sejak lama dan yang menjadi pioneer nya adalah Astra. Makanya jangan heran kalau tenaga-tenaga ahli yang sangat expertise dalam software SAP di Indonesia awalnya berasal dari perusahaan tersebut.
Di tulisan kali ini tidak akan mendalami ERP lebih jauh karena pokok pembahasan kita sekarang adalah MRP (Material Requirement Planning). Pertanyaannya adalah apakah ada kaitan antara ERP dan MRP dalam dunia bisnis? Ya tentu saja karena MRP merupakan cikal bakal lahirnya ERP. ERP sendiri secara teknis melakukan sejumlah fungsi yang tidak dilakukan oleh MRP antara lain :


Lalu muncul pertanyaan penting disini yaitu mengapa kita masih perlu belajar MRP kalau ERP dari semua segi fungsi lebih modern dan lengkap ? Hal ini benar adanya, tetapi secara realita tidak semua perusahaan manufacture sudah mengimplementasikan ERP, dikarenakan nilai investasinya yang sangat besar dan belum tentu berhasil digunakan antara perusahaan yang satu dan lainnya. Jadi perlu proses planning jangka panjang untuk memilih dan menyesuaikan ERP yang tepat. Faktor inilah yang menjadi alasan suatu perusahaan masih mengimplementasikan MRP saja dalam menciptakan solusi bisnisnya agar berjalan dengan efektif dan efisien.
Titik sukses dari pelaksanaan MRP adalah ketika adanya keberhasilan dalam hal peningkatan produktivitas perusahaan. Untuk menggapainya tentu saja tidak mudah karena begitu banyak tahapan proses yang harus dilakukan secara tepat. Sebelum berbicara lebih jauh tentang tahapan prosesnya, berikut ditampilkan dalam gambar di bawah mengenai pengertian umum dan kapan sebaiknya menggunakan MRP.


MRP meliputi perencanaan dan penjadwalan kebutuhan material perusahaan. Secara khusus, MRP merupakan serangkaian prosedur untuk merencanakan dan mengendalikan bahan baku, komponen yang dibeli dan work in process yang diperlukan dalam pembuatan suatu produk.
MRP sendiri dirancang untuk menjawab tiga pertanyaan yakni :
Untuk menjawab pertanyaan fundamental diatas maka kita perlu mengetahui dan memahami bagaimana tahapan proses pada MRP. Gambar dibawah ini akan menjelaskan secara garis besar mengenai langkah-langkahnya.

Dari gambar diatas perlu dijelaskan lebih lanjut mengenai kebutuhan apa saja yang perlu diidentifikasi supaya MRP dapat berjalan, antara lain :
Perlu dijelaskan selanjutnya mengenai apa saja kebutuhan – kebutuhan yang digunakan dalam menginput sistem MRP supaya dapat berjalan, setelah itu dihasilkan juga beberapa output dari MRP dalam bentuk plan order release. Perhatikan gambar dibawah mengenai input dan output MRP beserta penjelasannya.



Terakhir pada artikel bagian ini diuraikan beberapa manfaat dari penggunaan MRP antara lain :
Bagi para pemula maupun fresh graduate yang ingin mulai berkarir di perusahaan manufacture, pasti banyak menjumpai posisi lowongan kerja untuk posisi staff PPIC. Posisi PPIC ini merupakan tipe pekerjaan yang menjanjikan karena menerima lulusan dari semua background pendidikan, walaupun terkadang ada beberapa perusahaan yang menginginkan calon karyawannya berasal dari background yang spesifik, seperti engineering dan logistik.
Menariknya setelah bekerja nanti, “kebanyakan” perusahaan bakal selalu mempertahankan staf PPIC untuk tidak resign dari perusahaannya, apalagi kalau staf tersebut memiliki top perfomance. Saat ini memang tidak mudah bagi perusahaan manufacture untuk mencari orang yg berpengalaman dan ahli di bidang PPIC. Perputaran karyawannya pun tak sebanyak departemen lain seperti Legal, HR, Finance, dll. Seorang staf PPIC apabila memutuskan resign dan pindah ke perusahaan lain, belum tentu dia bisa menerapkan “copy paste” ilmu dan pengalamannya di tempat kerjanya yang baru. Kenapa bisa demikian ? Hal ini disebabkan banyak perusahaan manufacture yang memiliki sistem operasional produksi yang berbeda-beda. Jadi jangan heran anda yang sudah berpengalaman dan memiliki basic knowledge yg cukup, terpaksa harus memulai dari nol untuk beradaptasi kembali.

PPIC (Production Planning Inventory Control) adalah suatu departemen dalam suatu perusahaan yang berfungsi merencanakan dan mengendalikan rangkaian proses produksi agar berjalan sesuai rencana yang sudah ditetapkan serta mengendalikan jumlah inventory agar sesuai dengan kebutuhan yang ada.
Tak sesimpel definisinya, PPIC secara implementasi sangatlah luas bahkan sering terkait dengan proses kegiatan dari departemen lain. Saya berikan sedikit ilustrasi sederhana dimana staf PPIC memiliki hubungan yang erat dengan bagian marketing/sales, misalnya ketika kejadian dimana master schedule yang dibuat, dan tiba-tiba harus diubah oleh marketing karena adanya permintaan dari konsumen. Masalah tersebut seringkali terjadi di lapangan dan tentu saja dapat menimbulkan kekacauan di dalam produksi, ini merupakan bentuk dari gagalnya fungsi PPIC dalam menerjemahkan kebutuhan marketing. Di sinilah harus ada sistem manajemen perencanaan yang baik agar hal ini bisa dicegah. Jadi staf PPIC harus memiliki pemahaman yang kuat terhadap masalah planning. Pemahaman ini memang tidak bisa dipelajari secara instan, oleh karenanya staf PPIC senantiasa dituntut untuk selalu belajar, mengasah kemampuan analisanya serta berpikir sistematis.
Di artikel bagian pertama ini saya mencoba memberikan pemahaman mengenai alur kegiatan PPIC agar lebih mudah dipahami secara sistematis. Hal pertama yang harus dipelajari adalah Manajemen Produksi/Production Management. Menjadi staf PPIC tanpa mengerti apa itu produksi dan manajemennya merupakan hal yang fatal.
Produksi adalah penerapan sumber daya (orang dan mesin) untuk merubah bahan baku menjadi barang jadi ataupun jasa. Sedangkan Manajamen Produksi adalah pengelolaan sumber daya (orang dan mesin) untuk merubah bahan baku menjadi barang jadi ataupun jasa. Berikut adalah diagram proses produksi.

Proses produksi tersebut harus dijalankan dengan baik dan oleh karena itu dibutuhkan manajemen produksi yang efektif karena dapat :
Untuk menciptakan manajemen produksi yang efektif diperlukan proses yang mencakup tugas-tugas sebagai berikut :
Berikut adalah tahapan-tahapan dalam tugas manajemen produksi disertai dengan detail deskripsinya agar mudah dipahami

Pada bagian kedua nanti, akan dibahas mengenai alur selanjutnya yaitu Material Requirement Plan (MRP)