Memahami Dasar MRP (Material Requirement Planning) Bagi Staf PPIC Pemula (Bag 2)

Apakah anda mengenal sistem ERP (Enterprise Resource Planning) ?. Melalui software terkenalnya yakni SAP, sistem ini telah digunakan di banyak perusahaan dunia untuk mendukung kegiatan bisnisnya, walaupun harga yang ditawarkan memang sangat mahal baik dari sisi lisensi, konsultan dan pelatihan SDM. Di Indonesia sendiri implementasi software SAP sudah berlansung sejak lama dan yang menjadi pioneer nya adalah Astra. Makanya jangan heran kalau tenaga-tenaga ahli yang sangat expertise dalam software SAP di Indonesia awalnya berasal dari perusahaan tersebut.

Di tulisan kali ini tidak akan mendalami ERP lebih jauh karena pokok pembahasan kita sekarang adalah MRP (Material Requirement Planning). Pertanyaannya adalah apakah ada kaitan antara ERP dan MRP dalam dunia bisnis? Ya tentu saja karena MRP merupakan cikal bakal lahirnya ERP. ERP sendiri secara teknis melakukan sejumlah fungsi yang tidak dilakukan oleh MRP antara lain :

  • ERP memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai jenis data antara departemen perusahaan yang berbeda, sedangkan MRP adalah program mandiri.

  • ERP dapat menghitung semua sistem manajemen bisnis, filosofi dan evaluasi pada semua level, sedangkan MRP hanya menghitung berdasarkan Bill of Material yang berupa daftar kebutuhan bahan baku (raw material)
  • ERP terdapat modul-modul tambahan yang tidak dimiliki MRP seperti modul keuangan, area proses manufacturing, distribusi, payroll, manajemen proyek, sales marketing dan customes support yang bertujuan agar para decision maker lebih mudah menentukan keputusan serta mampu menjembatani komunikasi dengan supplier dan konsumen.

Lalu muncul pertanyaan penting disini yaitu mengapa kita masih perlu belajar MRP kalau ERP dari semua segi fungsi lebih modern dan lengkap ? Hal ini benar adanya, tetapi secara realita tidak semua perusahaan manufacture sudah mengimplementasikan ERP, dikarenakan nilai investasinya yang sangat besar dan belum tentu berhasil digunakan antara perusahaan yang satu dan lainnya. Jadi perlu proses planning jangka panjang untuk memilih dan menyesuaikan ERP yang tepat. Faktor inilah yang menjadi alasan suatu perusahaan masih mengimplementasikan MRP saja dalam menciptakan solusi bisnisnya agar berjalan dengan efektif dan efisien.

Titik sukses dari pelaksanaan MRP adalah ketika adanya keberhasilan dalam hal peningkatan produktivitas perusahaan. Untuk menggapainya tentu saja tidak mudah karena begitu banyak tahapan proses yang harus dilakukan secara tepat. Sebelum berbicara lebih jauh tentang tahapan prosesnya, berikut ditampilkan dalam gambar di bawah mengenai pengertian umum dan kapan sebaiknya menggunakan MRP.

MRP meliputi perencanaan dan penjadwalan kebutuhan material perusahaan. Secara khusus, MRP merupakan serangkaian prosedur untuk merencanakan dan mengendalikan bahan baku, komponen yang dibeli dan work in process yang diperlukan dalam pembuatan suatu produk.

MRP sendiri dirancang untuk menjawab tiga pertanyaan yakni :

  • Apa yang dibutuhkan ?
  • Berapa yang dibutuhkan ?
  • Kapan dibutuhkan ?

Untuk menjawab pertanyaan fundamental diatas maka kita perlu mengetahui dan memahami bagaimana tahapan proses pada MRP. Gambar dibawah ini akan menjelaskan secara garis besar mengenai langkah-langkahnya.

Dari gambar diatas perlu dijelaskan lebih lanjut mengenai kebutuhan apa saja yang perlu diidentifikasi supaya MRP dapat berjalan, antara lain :

  • Jumlah persediaan dalam stok fisik yang benar-benar dimiliki bisnis (Quantity on hand)
  • Jumlah berdasarkan perhitungan order pemesanan dan tanggal pengirimannya (Quantity on open purchase order). Contohnya adalah jika supplier pada tanggal 13.02.2019 mengirim 80 box skrup, sedangkan di dalam order pemesanan tertulis 100 box, jadi sisanya adalah 20 box yang dikirimkan pada tanggal 16.02.2019, maka open po quantity sekarang adalah nol.
    Date Qty. deliv. Total qty. deliv. Open PO qty.
    13.02.2019 80 bx 80 bx 20 bx
    16.01.2019 20 bx 100 bx 0 bx
  • Jumlah yang direncankan untuk produksi (Quantity in/or planned for manufacturing)
  • Jumlah yang bersifat komitmen untuk order yang ada (Quantity commited to existing orders)
  • Jumlah peramalan berdasarkan level stok fisik terakhir dengan kebutuhan lainnya seperti adanya penawaran dan permintaan (Quantity forecasted)

Perlu dijelaskan selanjutnya mengenai apa saja kebutuhan – kebutuhan yang digunakan dalam menginput sistem MRP supaya dapat berjalan, setelah itu dihasilkan juga beberapa output dari MRP dalam bentuk plan order release. Perhatikan gambar dibawah mengenai input dan output MRP beserta penjelasannya.

Terakhir pada artikel bagian ini diuraikan beberapa manfaat dari penggunaan MRP antara lain :

  • Penurunan inventory tanpa mengganggu pelayanan pada pelanggan
  • Pengurangan waktu produksi dan pengiriman
  • Peningkatan efisiensi
  • Respon lebih cepat terhadap perubahan pasar
  • Peningkatan utilisasi tenaga kerja dan peralatan
  • Perencanaan dan penjadwalan inventory yang lebih baik

Memahami Dasar Manajemen Produksi/Production Management Bagi Staf PPIC Pemula (Bag 1)

Bagi para pemula maupun fresh graduate yang ingin mulai berkarir di perusahaan manufacture, pasti banyak menjumpai posisi lowongan kerja untuk posisi staff PPIC. Posisi PPIC ini merupakan tipe pekerjaan yang menjanjikan karena menerima lulusan dari semua background pendidikan, walaupun terkadang ada beberapa perusahaan yang menginginkan calon karyawannya berasal dari background yang spesifik, seperti engineering dan logistik.

Menariknya setelah bekerja nanti, “kebanyakan” perusahaan bakal selalu mempertahankan staf PPIC untuk tidak resign dari perusahaannya, apalagi kalau staf tersebut memiliki top perfomance. Saat ini memang tidak mudah bagi perusahaan manufacture untuk mencari orang yg berpengalaman dan ahli di bidang PPIC. Perputaran karyawannya pun tak sebanyak departemen lain seperti Legal, HR, Finance, dll. Seorang staf PPIC apabila memutuskan resign dan pindah ke perusahaan lain, belum tentu dia bisa menerapkan “copy paste” ilmu dan pengalamannya di tempat kerjanya yang baru. Kenapa bisa demikian ? Hal ini disebabkan banyak perusahaan manufacture yang memiliki sistem operasional produksi yang berbeda-beda. Jadi jangan heran anda yang sudah berpengalaman dan memiliki basic knowledge yg cukup, terpaksa harus memulai dari nol untuk beradaptasi kembali.

PPIC (Production Planning Inventory Control) adalah suatu departemen dalam suatu perusahaan yang berfungsi merencanakan dan mengendalikan rangkaian proses produksi agar berjalan sesuai rencana yang sudah ditetapkan serta mengendalikan jumlah inventory agar sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Tak sesimpel definisinya, PPIC secara implementasi sangatlah luas bahkan sering terkait dengan proses kegiatan dari departemen lain. Saya berikan sedikit ilustrasi sederhana dimana staf PPIC memiliki hubungan yang erat dengan bagian marketing/sales, misalnya ketika kejadian dimana master schedule yang dibuat, dan tiba-tiba harus diubah oleh marketing karena adanya permintaan dari konsumen. Masalah tersebut seringkali terjadi di lapangan dan tentu saja dapat menimbulkan kekacauan di dalam produksi, ini merupakan bentuk dari gagalnya fungsi PPIC dalam menerjemahkan kebutuhan marketing. Di sinilah harus ada sistem manajemen perencanaan yang baik agar hal ini bisa dicegah. Jadi staf PPIC harus memiliki pemahaman yang kuat terhadap masalah planning. Pemahaman ini memang tidak bisa dipelajari secara instan, oleh karenanya staf PPIC senantiasa dituntut untuk selalu belajar, mengasah kemampuan analisanya serta berpikir sistematis.

Di artikel bagian pertama ini saya mencoba memberikan pemahaman mengenai alur kegiatan PPIC agar lebih mudah dipahami secara sistematis. Hal pertama yang harus dipelajari adalah Manajemen Produksi/Production Management. Menjadi staf PPIC tanpa mengerti apa itu produksi dan manajemennya merupakan hal yang fatal.

Produksi adalah penerapan sumber daya (orang dan mesin) untuk merubah bahan baku menjadi barang jadi ataupun jasa. Sedangkan Manajamen Produksi adalah pengelolaan sumber daya (orang dan mesin) untuk merubah bahan baku menjadi barang jadi ataupun jasa. Berikut adalah diagram proses produksi.

book1(1)-001-394584056.jpg

Proses produksi tersebut harus dijalankan dengan baik dan oleh karena itu dibutuhkan manajemen produksi yang efektif karena dapat :

  1. Menurunkan biaya produksi
  2. Meningkatkan kualitas produk maupun jasa
  3. Mampu merespon permintaan pelanggan dengan cepat
  4. Mampu memperbaharui diri dengan menyediakan produk-produk baru

Untuk menciptakan manajemen produksi yang efektif diperlukan proses yang mencakup tugas-tugas sebagai berikut :

  1. Merencanakan proses produksi
  2. Penentuan layout produksi
  3. Melaksanakan rencana produksi
  4. Mengendalikan proses produksi

Berikut adalah tahapan-tahapan dalam tugas manajemen produksi disertai dengan detail deskripsinya agar mudah dipahami

Pada bagian kedua nanti, akan dibahas mengenai alur selanjutnya yaitu Material Requirement Plan (MRP)

Perlukah Diadakan Tes LGD ?

Seminggu yang lalu salah seorang rekan saya telah melamar untuk posisi warehouse manager di salah satu perusahaan F&B yang cukup terkenal di Kota Bandung. Tak butuh waktu lama, recruiter perusahaan tersebut memberikan informasi via email dan telpon bahwa rekan saya lolos persyaratan administrasi dan harus menyelesaikan suatu tugas sebelum diundang datang ke kantor. Tugas apakah itu ? Ya, perusahaan memberikan “PR” berupa case study yang harus diselesaikan dalam waktu dua hari, dan jawaban harus ditulis tangan, lalu di scan/foto serta dikirim kembali via email. Berikut case study yang diberikan bisa dilihat di bawah ini.
inshot_20190204_0500083731713359791.jpg

Karena case study tersebut dikerjakan di rumah, dan waktu yang diberikan relatif cukup luang, tentu saja hal itu bukan menjadi kendala bagi para kandidat. Apalagi mereka bisa mendapatkan referensi jawaban dari diskusi bersama teman seprofesi, atau bisa juga hand on by google. Rekan saya pun dapat menyelesaikan tugas itu “katanya” dengan baik dan tepat waktu.

Selang sehari kemudian, recruiter memberikan informasi bahwa rekan saya telah lolos di tahap tersebut, dan diundang datang ke kantor mereka untuk melakukan sesi psikotes dan interview. Singkat cerita, rekan saya sudah berada di lokasi untuk mengikuti seleksi tahap berikutnya dan datang lebih awal tiga puluh menit sebelum tes dimulai, ternyata disana sudah terdapat tiga calon kandidat lain yang akan mengikuti seleksi. Mereka pun saling mengobrol santai sambil menunggu tes dimulai.

Tepat jam sembilan, rekruiter datang dan memberikan informasi bahwa sebelum diadakan psikotes, dilaksanakan tahapan proses lainnya terlebih dahulu yaitu LGD yang akan membahas case study yang telah dikerjakan sebelumnya. Wow.. Tentu saja hal ini sontak membuat para kandidat kaget, karena mereka merasa tidak diberitahukan sebelumnya. Apalagi dalam tahapan LGD akan ada salah satu kandidat yang dinyatakan GUGUR.

Memang tak semua perusahaan dalam rekrutmennya menerapkan LGD (Leaderless Group Discussion). LGD sebenarnya sering digunakan untuk menyeleksi kandidat yang berstatus fresh graduate, sedangkan untuk yang berposisi supervisor ke atas biasanya meniadakan tahap seleksi ini. Tetapi saya berpikit positif saja mungkin diadakannya seleksi ini agar perusahaan “lebih” menemukan potensi yang dimiliki oleh kandidat dan tentu bisa menjalankan perannya dalam suatu kasus. Jadi di dalam tahap LGD tak hanya knowledge yang dinilai tetapi problem solving dan communication skill kandidat juga diuji.

Sudah diduga bahwa tak semua kandidat mengerti bagaimana proses LGD ini berjalan, sehingga recruiter dengan seksama menjelaskan  mengenai rules dan point-point apa yang akan dinilai oleh mereka, seperti cara berkomunikasi dan penguasaan materi. Jadi LGD ini sederhananya merupakan kelompok diskusi tanpa moderator dan pemimpin. Tugas untuk menyelesaikan permasalahan diserahkan sepenuhnya kepada forum. Para kandidat diwajibkan mengemukakan pendapat terbaiknya, dan diberikan waktu selama tiga puluh menit untuk menyelesaikan masalah. Kesannya memang mudah karena dikerjakan secara bersama-sama, tapi disitulah sebenarnya masalah timbul.

Sebelum forum dimulai recruiter memberikan kesempatan untuk para kandidat memilih siapa yang akan menulis hasil diskusi jawaban pada selembar kertas, para kandidat pun secara gestur tidak ada yang bersedia mengambil peran itu. Cukup dimengerti kenapa penolakan itu terjadi, karena dikhawatirkan fokus mereka akan terpecah sepanjang diskusi berlansung. Cukup sulit bukan menulis sembari mengemukakan pendapat ?

Tapi bagaimanapun akhirnya salah satu kandidat ada yang mengambil peran tersebut. Forum akhirnya dimulai dan para kandidat secara bergantian saling mengemukakan pendapat mereka  untuk menjawab tiga pertanyaan utama dalam case study tersebut. Katanya sih awal diskusi berjalan lancar dan kondusif, tetapi di tengah diskusi sifat “ego” dan rasa ingin tampil pun mulai mengemuka antar kandidat. Mereka seakan saling berebut untuk siapa yang lebih banyak bicara, dan agak memaksakan kehendak pada saat berbeda pendapat.

Waktu yang diberikan pun habis dan hanya dua dari tiga jawaban yang berhasil dijawab oleh para kandidat. Selanjutnya mereka menunggu di luar karena tim recruiter sedang berdiskusi siapa yg akan lolos dan siapa yang gagal dari tahapan ini. Efek dari forum ini ternyata masih menyisakan kekesalan antar kandidat satu dengan yang lain sehingga tak ada obrolan lagi di luar.

Recruiter pun datang dan bersiap memberikan informasi mengenai siapa kandidat yang gugur. Ternyata yang gugur dalam seleksi adalah kandidat yang mengambil tugas untuk menulis jawaban hasil diskusi tadi. Para kandidat lain yang berhasil lolos berhak melaju ke tahap psikotes.

Hemat saya dalam tahapan LGD ini seharusnya ada beberapa kandidat yang gugur, jadi tak hanya satu kandidat sebab diskusi yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah secara lengkap ternyata gagal dilakukan dan pastinya bukan kesalahan dari satu pihak saja. Selain itu, tim penilai pun harus lebih concern bahwa secara prinsip kualitas itu sebenarnya mengalahkan kuantitas, jadi bukan dari seberapa lama dan banyaknya mereka berbicara saja melainkan ide yang disampaikan pun haruslah berbobot dan tepat sasaran. Sikap saling respek sesama kandidat juga seharunya dinilai. Watak egois dan ingin menang sendiri tentu saja sangat berbahaya pada saat bekerja nanti.

Walaupun forum jenis ini tidak ada fasilitator, tetapi seharusnya jangan sampai mengesampingkan adanya user untuk terlibat sebagai tim penilai. Karena pada dasarnya user sebagai calon atasan dari para kandidat adalah orang yang lebih tahu banyak hal yang lebih detail tentang pekerjaan.

Dari peristiwa ini kita bisa melihat bahwa penilaian terhadap LGD tidak hanya meliputi komunikasi dan penguasaan materi saja, tetapi ada hal lain yang tak kalah pentingnya yaitu bagaimana sikap dan cara kandidat menempatkan diri.

Tapi bagaimanapun keputusan recruiter pada saat itu patut kita hargai dan pastinya memiliki standar penilaian tersendiri yang sudah sesuai dengan apa yang diinginkan perusahaan.

Perkembangan Kegiatan dan Fungsi Warehouse

Pertama kali kita mendengar istilah warehouse mungkin seketika dipikiran kita tertuju pada suatu tempat penyimpanan berbagai barang yang diperlukan ketika tidak ada lagi ruangan untuk menaruhnya. Definisi itu benar karena sejatinya fungsi dan keberadaan warehouse sangatlah simpel. Pada era tradisional, banyak orang memandang warehouse sebagai cost center atau suatu kegiatan baik dalam kegiatan personal maupun suatu unit dalam organisasi yang tidak menambah keuntungan tetapi malah menimbulkan biaya atau beban yang harus ditanggung.

Seiring dengan kemajuan bisnis maka keberadaan dan fungsi warehouse ikut menempati peran cukup penting, khususnya dalam bidang distribusi. Hal ini dibuktikan dengan warehouse menjadi tempat trans-shipment point atau fasilitas singgah dimana produk-produk diterima, disortir, diurut dan dipilih menjadi suatu muatan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Warehouse dalam kegiatan distribusi ini diharapkan menjadi sarana pendukung agar proses pengiriman berjalan cepat dengan biaya efisien. Dari sini dapat kita pahami bahwa perspektif pelaku bisnis mulai berubah dimana sebelumnya warehouse hanya dipandang sebagai cost center, maka sekarang dipandang sebagai profit center yang dapat memberikan nilai tambah dari segi pendapatan.

Perkembangan warehouse di dalam kegiatan sejatinya tidak terlalu berubah secara prinsip. Kegiatan utama warehouse tak jauh dari proses penerimaan barang, pemeriksaan barang, penyimpanan barang dan pengiriman barang. Perubahan yang paling signifikan pada warehouse adalah adanya penggunaan teknologi berupa peralatan, penerapan sistem teknologi informasi komunikasi (ICT), peningkatan kinerja kelola melalui kombinasi teknologi otomasi (automation) dan penerapan sistem KPI (Key Perfomance Indicators).

Berbagai macam hal tersebut diterapkan terhadap warehouse seiring pesatnya dunia teknologi dan informasi saat ini dimana para pelaku di industri retail, distribusi dan manufaktur berlomba-lomba berkompetisi dalam memenuhi permintaan pelanggan dengan lebih cepat dan akurat. Hadirnya teknologi ini salah satunya dapat membantu para pekerja warehouse dalam mengatasi keterbatasan dan inefisiensi dari pekerjaan manual.